Jakarta, Edunus.Com – Isu kesehatan mental remaja saat ini menjadi perhatian penting di Indonesia. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) tahun 2022, sekitar 34,9% remaja usia 10–17 tahun menunjukkan adanya masalah kesehatan mental, dan 5,5% di antaranya mengalami dua atau lebih gangguan mental dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun demikian, hanya sekitar 2,6% remaja yang mengakses layanan kesehatan mental seperti konseling atau dukungan profesional.
Temuan lain dari studi Health Collaborative Center (HCC) dan Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) juga menunjukkan bahwa 34% siswa SMA di Jakarta mengalami gejala gangguan mental. Data ini menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja dan membutuhkan perhatian bersama dari berbagai pihak, termasuk sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, serta komunitas.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan kesadaran dan respons terhadap isu kesehatan mental, SMA Fons Vitae 2 berpartisipasi dalam program Youth Voice for Mental Health yang diselenggarakan oleh Youth Fellow Indonesia bekerja sama dengan Perkumpulan Pamflet Generasi, Yayasan Kusuma Buana, dan Sanggar Anak Harapan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pelajar mengenai kesehatan mental serta mendorong keterlibatan aktif siswa dalam membangun lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap kesejahteraan mental.
Workshop “Youth Voice for Mental Health”
Sebagai bagian dari program tersebut, para siswa mengikuti Workshop Youth Voice for Mental Health yang dilaksanakan pada 8, 14, 15, 21, dan 22 November 2025 di wilayah Jakarta Utara. Kegiatan ini diikuti oleh 20 pelajar dari dua sekolah, yaitu SMA Fons Vitae 2 dan SMAN 13 Jakarta, yang aktif dalam berbagai organisasi sekolah seperti OSIS, MPK, maupun PIK-R.
Melalui workshop ini, para peserta mempelajari berbagai topik terkait kesehatan mental, mulai dari pemahaman dasar mengenai kesehatan mental, cara mengenali kondisi emosional diri sendiri dan teman sebaya, hingga informasi mengenai akses layanan kesehatan mental yang tersedia di lingkungan sekitar. Selain itu, siswa juga diajak untuk berdiskusi dan berbagi perspektif mengenai pengalaman mereka sebagai pelajar, serta mengidentifikasi berbagai peluang untuk memperkuat dukungan kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Proses diskusi dan pembelajaran selama workshop menghasilkan sejumlah refleksi dan gagasan dari para siswa. Beberapa hal yang menjadi perhatian peserta antara lain pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan pelajar, memperkuat dukungan antar teman sebaya, serta membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai kesehatan mental di lingkungan sekolah. Para siswa juga menyampaikan ide mengenai kegiatan dan pendekatan yang dapat dilakukan bersama antara pelajar, guru, dan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi kesejahteraan mental.
Diseminasi Hasil dan Deklarasi Sekolah Peduli Kesehatan Mental
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilaksanakan Diseminasi Program Youth Voice for Mental Health dan Deklarasi Sekolah Peduli Kesehatan Mental pada 2 April 2026 di Urban Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam kegiatan ini, 2 siswa dari SMA Fons Vitae 2 yaitu Joana Avrilia dan Tarsisius Mario bersama 2 siswa lainnya dari SMAN 13 Jakarta mempresentasikan hasil pembelajaran serta gagasan yang mereka kembangkan selama mengikuti workshop di hadapan 50 orang peserta Deklarasi Sekolah Peduli Kesehatan Mental.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Utara, pihak sekolah, tenaga kesehatan dari puskesmas, psikolog, serta komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental. Para siswa memaparkan hasil diskusi mereka mengenai berbagai langkah yang dapat dilakukan secara kolaboratif untuk memperkuat dukungan kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Kegiatan juga dilengkapi dengan talkshow kolaboratif yang menghadirkan berbagai perspektif dari sekolah, tenaga kesehatan, serta program remaja mengenai pentingnya kerja sama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa.
Puncak acara ditandai dengan Deklarasi Sekolah Peduli Kesehatan Mental, yang menjadi simbol komitmen bersama antara sekolah, pelajar, dan para pemangku kepentingan untuk terus mendorong upaya-upaya yang mendukung kesejahteraan mental peserta didik. (Alvina Damayanti)






